Review Venom Let There Be Carnage (2021), Ini Venom Apa Badut?

Banner Venom Let There Be Carnage 2021

Venom Let There Be Carnage (2021) - Sony Picture Entertainment harus lebih banyak belajar dari kegagala mereka dalam membuat film-filmnya, terutama untuk film jenis super hero. Kami sering mendapatkan kelemahan Sony yang kurang berani dalam mengeksekusi film jenis super hero, termasuk pada film ini. 

Setelah berulang kali mendapatkan penundaan perilisan, film Venom Let There Be Carnage (2021) akhirnya resmi pada tanggal 17 November lalu. Pada perilisan ini kami berharap film besutan Sony ini memiliki eksekusi yang baik, namun ternyata jauh dari harapan kami,

Bahkan tidak sebaik film pertamanya.  Film Super Hero buatan Sony yang berkesan masih dipegang oleh Spider-Man: Into The Spider Verse. Untuk Lebih jelasnya simak review berikut:


Trailer: Venom Let There Be Carnage - 2021

Masih melanjutkan kisah Eddie Brock yang merupakan juru berita, Ia berubah mejadi Venom setelah Symbiote menempel pada dirinya. Eddi Brock berusaha untuk hidup sebagai induk dari Venom, yang dikenal dengan keganasannya dalam memangsa otak manusia. Namun Eddie mengantikannya coklat dan organ hewan untuk Venom.

Suatu ketika, Eddie mendapat kunjungan dari seorang detektif yang bernama Patrick Mulligan, detektif ini meminta Eddie untuk menemui Celetir Kasady si pembunuh bernatai. Dan dengan rasa terpaksa, akhirnya Eddie menyanggupinya.

Dalam pertemuannya dengan Kassady, Eddie tertarik dengan gambar yang ada pada ruang penjara Kasady. Berkat bantuan dari Venom, Eddie bisa mengungkap pesan raahasia dari gambar itu, yang ternyata adalah tempat Kasady menaruh para korbannya.

Selesai dengan pertemuan pertama, Kasady mengajukan kembali pertemuan dengan Eddie. Dalam pertemuan kedua ini Eddie membuat Kasady menjadi emosi, sehingga Kasady menggigit tangan Eddie hingga berdarah.

Setelah insiden itu, lalu kasady dibawa oleh petugas ke ruang eksekusi. Namun hal aneh terjadi, tubuh Kasady berubah menjadi Carnage yang merupakan Symbiote dengan warna merah. Lalu Kasady menyerang petugas dan lari dari penjara untuk mencari Eddie.

Dan terjadilah perkelahian antara Venom yang menempel di tubuh Eddie dan Carnage yang menempel pada tubuh Kasady.

Venom & Eddie Brock (Tom Hardy)

Dari awal kami memang tidak pernah menaruh ekspetasi yang banyak dengan film yang satu ini, karena mengikuti rangkaian cerita komiknya Venom dan Carnage memang sudah beda level. Kekuatan Carnage tidak dapat diimbangi dengan Venom. Dan apa yang ada di film ini, semua tampak komikal.

Kami berharap aksi yang diberikan terhadap dua Symbiote ini akan memberikan pertunjukan yang begitu megah, namun ternyata jauh dari harapan.

Kita akan mundur kebelakang sendikit. Pada bagian sebelum munculnya Carnage. Pada bagian ini ada konflik cerita yang dibangun perlahan, namun tidak terdapat motivasi yang akhirnya membuat semuanya tidak begitu tampak solid.

Baca Artikel Review Yang Lain: Review Losmen Bu Broto 2021, Kisah Kehangatan Keluarga.

Film ini hanya keterpaksaan Sony Picture Entertainment untuk menghadirkan sequel tanpa pondasi yang kokoh, dan berimbas pada sebagian besar tokoh karakter yang terlihat tampak lemah dan minim penggalian karakter.

Entah peran yang dibawakan Tom Hardy, Woody Harrelson, Michelle Williams, Stephen Graham sampai Naomie Harris. Dan Tom Hardy tampak lebih bodoh pada film keduanya ini. Woody Harrelson pun demikian, meski tidak seburuk Tom Hardy.

Woody Harrelson (Cletus Kasady)

Kepiawaian Woody Harrelson ternyata tertutupi dengan segala potesi yang hanya diberikan bagian dari film yang tak lebih dari 50%. Sementara untuk Naomie Harris sebagai Frances Barrison ini pun demikian, walau sebenarnya tokohnya tidak ada pun tidak mengapa, karena tidak ada pengaruh yang besar dengan film ini. 

Sementara untuk Stephen Graham yang berperan sebagai detektif Mulligan yang dipastikan nanti akan menjadi Symbiote berikutnya bernama Toxin, di film Venom Let There Be Carnage ini pun sama. Tidak medapat banyak peranan penting.

Upaya Sony untuk menyuntikan humor didalamnya pun tidak berdampak banyak pada film ini. Alih-alih membuat penonton sedikit terbawa dengan suasana riang, justru malah mejadi jokes receh yang hanya dipahami oleh beberapa kumpulan orang saja,

Perlu kami akui Eternals lebih baik dari film ini. Film arahan Andy Serkis ini terlalu percaya diri menurut kami, motivasi yang minim berimbas kepada alur cerita yang tidak jelas arahnya.

Sangat disayangkan, padahal komik Marvel yang menceritakan para symbiote ini, memiliki banyak potensi yang dapat memaksimalkan cerita dari film Venom ini. Memang seharusnya para Crossover harus terjadi dan membawa Venom ketempat yang semestinya.

Symbiote Venom seharusnya bukan boneka pertunjukan yang tampil untuk ditertawakan bak badut penghibur. Lagi-lagi Vilain dalam film-film super hero harusnya lebih ganas lagi, dan memberikan lebal dengan Rating R dan bukan 13+.

Post Credit Scene sudah bertebaran dimana-mana, sebelum film resmi dirilis di Indonesia, jadi kita tidak perlu bahas lagi. Intinya Sony Picture Entertainment selaku pemilik lisensi Venom ini, harusnya lebih peka dalam menggali potensinya. Atau mungkin memang Sony sengaja membuatnya tidak terlihat ganas, karena akan membuat gebrakan di Film Spider-Man.

Kami hanya bisa berharap, Marvel dan masa depan Spider-Man yang sedang dipegang Sony akan benar-benar gemerlap, dan tidak mengecewakan.

Setelah melihat film ini, kami belum bisa memastikan akan membuat Breakdown film atau tidak. Karna sejauh ini kami belum menemukan hal yang menarik untuk digalih dalam film ini.

Venom

Terkecuali pada tokoh karakter seperti Siegfried yang pernah muncul di komik Marvel Mystery Issue 55 yang tokohnya sebagai mata-mata Nazi. Kemudian Mata Biru Dektetif Mulligan dan yang terakhir Post Credit Scene yang menghadirkan berita Spider-Man yang ditayangkan oleh The Dialy Bugle disebuah TV.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama